Pasukan BAPOMI Simalungun: Bawa Perpustakaan Keliling Pakai Motor
Literasi adalah kunci utama dalam membuka gerbang pengetahuan, namun di banyak pelosok desa di Kabupaten Simalungun, akses terhadap buku bacaan masih menjadi barang mewah. Melihat kenyataan tersebut, BAPOMI Simalungun mengambil langkah yang sangat tidak biasa bagi sebuah organisasi olahraga mahasiswa. Mereka membentuk sebuah tim khusus yang dikenal dengan sebutan Pasukan BAPOMI Simalungun literasi. Uniknya, para atlet mahasiswa ini tidak hanya berlatih fisik, tetapi juga secara rutin melakukan perjalanan ke desa-desa terpencil menggunakan motor pribadi yang telah dimodifikasi untuk membawa ratusan buku. Gerakan ini bertujuan untuk mendekatkan dunia pustaka kepada anak-anak di daerah yang sulit dijangkau oleh perpustakaan konvensional.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan para atlet akan rendahnya minat baca di kalangan generasi muda di pedesaan. BAPOMI Simalungun melihat bahwa mobilitas mereka sebagai atlet yang sering berpindah tempat latihan bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih luas. Dengan menggunakan motor, mereka bisa menembus medan yang sulit dan jalanan sempit yang tidak bisa dilalui oleh mobil perpustakaan keliling milik pemerintah. Setiap akhir pekan, para atlet ini menyisihkan waktu istirahat mereka untuk menjadi relawan yang membawa misi mencerdaskan kehidupan bangsa melalui lembaran buku. Olahraga dan pendidikan bagi mereka adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam membangun karakter pemuda.
Kegiatan perpustakaan keliling ini biasanya dipusatkan di balai desa atau lapangan terbuka tempat anak-anak sering berkumpul. Setelah sesi membaca bersama, para atlet ini seringkali mengajak anak-anak untuk melakukan aktivitas olahraga ringan atau permainan tradisional. Pendekatan ini sangat efektif karena anak-anak merasa senang dan tidak bosan. BAPOMI ingin menciptakan citra bahwa membaca adalah aktivitas yang sama kerennya dengan berolahraga. Dengan cara ini, hambatan psikologis anak-anak terhadap buku perlahan mulai hilang, dan kegemaran membaca mulai tumbuh secara organik di tengah lingkungan yang jauh dari pusat kota.
Penggunaan motor sebagai sarana transportasi utama bukan tanpa alasan. Selain faktor efisiensi biaya, motor memberikan fleksibilitas bagi para atlet untuk mencapai dusun-dusun terdalam. Mereka seringkali harus melewati jalur perkebunan karet dan sawit demi menemui sekelompok anak yang sudah menunggu kedatangan mereka. Semangat pantang menyerah yang dimiliki oleh seorang atlet benar-benar diuji di sini. Bukan untuk memperebutkan medali, melainkan untuk memastikan bahwa setiap anak di Simalungun memiliki hak yang sama dalam mengakses pengetahuan melalui bacaan yang berkualitas.