Donasi Buku & Alat Tulis: Kado Lebaran Untuk Anak Simalungun
Momen menjelang Idulfitri biasanya identik dengan baju baru dan pernak-pernik perayaan yang bersifat konsumtif. Namun, di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sekelompok mahasiswa mencoba mengalihkan tradisi tersebut ke arah yang lebih edukatif melalui gerakan donasi buku & alat tulis. Mereka percaya bahwa memberikan akses pendidikan yang lebih baik adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih berharga daripada sekadar pakaian baru. Gerakan ini menyasar anak-anak dari keluarga petani dan pekerja perkebunan yang sering kali kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Program yang diberi tajuk kado lebaran ini bertujuan untuk membangkitkan semangat baru bagi siswa-siswi di daerah terpencil sebelum mereka memasuki semester baru setelah libur panjang. Banyak orang tua di desa-desa pelosok Simalungun yang harus memutar otak untuk membagi biaya antara kebutuhan pangan Lebaran dan kebutuhan alat tulis anak-anak mereka. Kehadiran mahasiswa dengan paket donasi ini memberikan napas lega bagi para orang tua sekaligus memberikan kegembiraan bagi anak-anak. Paket yang diberikan meliputi buku tulis, tas sekolah, pensil, penggaris, hingga buku-buku referensi yang masih layak pakai.
Langkah penggalangan dana dan barang dilakukan secara masif melalui media sosial dan posko-posko di lingkungan kampus. Mahasiswa mengetuk hati para dermawan untuk ikut serta menyisihkan sebagian rezekinya bagi anak Simalungun. Transparansi menjadi kunci utama, di mana setiap donasi yang masuk dicatat dan dilaporkan secara terbuka. Uniknya, mahasiswa juga menyelipkan kartu ucapan motivasi yang ditulis langsung oleh para donatur di dalam setiap paket alat tulis. Pesan-pesan personal ini diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak di pelosok untuk terus berprestasi meski berada di tengah keterbatasan.
Distribusi kado lebaran ini dilakukan dengan cara mendatangi sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan kecil atau langsung ke rumah-rumah warga yang membutuhkan. Mahasiswa melakukan kurasi data agar bantuan tidak tumpang tindih dan benar-benar jatuh ke tangan yang tepat. Di Simalungun, medan yang harus ditempuh sering kali melewati jalanan tanah di tengah hamparan kebun teh atau sawit. Namun, kelelahan fisik para mahasiswa terbayar lunas saat melihat binar mata anak-anak yang menerima peralatan sekolah baru tersebut. Bagi mereka, buku baru memiliki aroma harapan yang sangat kuat.